(Kandungan Surat Al-Ashr)
Drs. Ngaidin

Pada kehidupan dunia yang fana ini, tidak ada seorangpun yang menginginkan dirinya merugi. Akan tetapi kebanyakan manusia lalai dari hal-hal yang dapat mengantarkannya menuju keberuntungan dan menjauhkannya dari kerugian, serta memberikan kebahagiaan yang hakiki dan menghilangkan kesediahan dalam mengarungi kehidupan yang penuh ujian dan cobaan.
Allah telah menggambarkan kerugian yang akan dialami bani Adam kecuali bagi mereka yang bersungguh-sungguh menggapai, mengamalkan, dan mempertahankan hal-hal tersebut agar terus menyelimuti serta menyifati dirinya sampai ajal menjemputnya. Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ‌[103-1]
Demi masa.
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ‌[103-2]
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ‌[103-3]
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Semua manusia dalam keadaan merugi baik orang miskin maupun kaya, orang punya pangkat maupun tidak, orang tua maupun muda. Semuanya dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang mempunyai kriteria sebagai berikut:
1.Orang-orang yang beriman
Yang dimaksud orang beriman disini adalah beriman kepada Allah dan Rosul-Nya, serta beriman kepada apa yang didatangkan kepada Rasulullah berupa petunjuk dan agama yang haq (Islam). Dan perlu diperhatikan bahwa Allah SWT tidak hanya sekedar ucapan semata, angan-angan yang terlintas semata, atau apa yang terbetik dalam hati seseorang, akan tetapi yang dimaksud dengan iman adalah pengakuan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkannya dengan anggota badan.
Dan perlu kita perhatikan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Al-Hafidz Abu Bakr al-Ismaily dalam kitabnya I’tiqod Aimati Ahlil Hadits mengatakan : “ Iman itu bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan kemaksiatan. Barangsiapa yang melakukan ketaatan niscaya akan bertambah imannya. Semoga kita menjadi orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar yang berlandaskan pada ilmu yang haq, berpijak dengan kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
2.Orang-orang yang beramal soleh
Adapun yang dimaksud dengan amalan sholih adalah amalan-amalan soleh yang wajib dan yang sunnah.
3.Orang-orang yang saling menasehati supaya mentaati kebenaran.
Menasehati orang lain merupakan ibadah yang banyak keutamaannya. Akan tetapi hal ini sangat membutuhkan keikhlasan ilmu, kelemahlembutan dan kesabaran. Karena berdakwah dengan menunjukkan jalan keselamatan dan kebenaran penuh rintangan. Walaupun demikian, tidak akan terasa sulit dan berat bagi orang yang berdakwah di jalan Allah sebagaimana firmanNya:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ‌[41-33]
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”

Hasan Al-Bashri telah membaca ayat yang mulia tersebut yang artinya (“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah”), kemudian beliau mengatakan bahwa seorang da’i itu adalah kekasih Allah, wali Allah, manusia pilihan Allah, dan penduduk bumi yang paling dicintai Allah. Kemudian Rasulullah SAW juga mengabarkan tentang keutamaan oang yang berdakwah dengan menunjukkan kebenaran, beliau bersabda yang artinya: “Barang siapa yang menunjukkan suatu kebaikan, maka baginya (pahala) sebagaimana orang yang melakukannya.” (HR. Muslim) dan orang yang mengorbankan dirinya untuk berdakwah dengan ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti metode Rasulullah dalam berdakwah) merupakan orang-orang yang bersungguh-sungguh mengikuti jejak Rasulullah karena beliau sangat gigih mendakwahkan agama yang haq ini sebagaimana firman Allah :

قُلْ هٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

4.Orang-orang yang saling menasehati untuk kebenaran
Maksudnya saling menasehati sebagian mereka sebagian yang lain dengan kebenaran. Supaya kebenaran itu diyakini (dengan hati), disampaikan (dengan lisan), dan diamalkan (dengan anggota badan) serta saling menasehati untuk menetapi kesabaran atas yang demikian itu. Sampai salah satu di antara mereka meninggal sedangkan ia meyakini suatu kebenara, mengucapkannya dan mengamalkan apa yang datang dari kebenaran itu.

Kesabaran merupakan perkara yang penting. Kita semua membutuhkannya agar dapat mengarungi kehidupan dunia yang tidak lepas dari ujian. Semoga Allah menjaga jiwa kita untuk tetapp istiqomah dalam menuntut ilmu syar’i yang menjadi pelita hati untuk semua penduduk bumi, baik di dunia dan diakhirat nanti. Dan semoga Allah senantiasa memberikan keistiqomahan untuk beramal kebaikan serta memberi keteguhan dalam mendakwahkannya. Akhirnya kepada Engkaulah ya Allah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, penuhilah hati kami dengan kesabaran agar dapat mengarungi ujian dan rintangan dalam mendakwahkan kebenaran sesuai dengan kemampuan.